PENDAHULUAN
Pendidikan adalah merupakan suatu masalah yang sangat
penting dalam kehidupan manusia. Maju tidaknya suatu bangsa sangat tergantung
pada pendidikan bangsa tersebut. Artinya jika pendidikan suatu bangsa dapat
menghasilkan “ Manusia “ yang berkwalitas lahir batin. Otomatis bangsa
tersebut akan maju, damai dan tetram. Sebaliknya jika pendidikan suatu bangsa
mengalami stagnasi maka bangsa itu akan terbelakang disegala bidang.
Berbicara mengenai kualitas sumberdaya manusia. Islam
memandang bahwa pembianaan sumberdaya manusia tidak dapat dilepaskan dari
pemikiran mengenai manusia itu sendiri, dengan demikian Islam memiliki konsep
yang sangat jelas, utuh dan komprehensif mengenai pembinaan sumberdaya manusia. Konsep ini tetap
aktual dan relevan untuk diaplikasikan sepanjang zaman (
Abudin Nata, 2001; 17)
Dewasa ini Pendidikan Nasional tengah menghadapi isu krusial. Isu yang paling sensitif terkait dengan mutu pendidikan, relevansi pendidikan,
akuntabilitas, professionalisme, efisiensi, debirokrasi dan prilaku pemimpin
pendidikan.
Hal tersebut masing sangat kontradiktif dengan
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan
Nasional ( sisdiknas) bab II pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab . Dan pada bab III pasal 4
ayat 6 disebutkan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan adalah dengan
memperdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam
penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan ( Sisdiknas, 2003;no
20 )
Pada hakekatnya, berbagai upaya yang telah
dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan belum menunjukkan
hasil yang menggembirakan, bahkan masih banyak kegagalan ini disebabkan antara
lain ; masalah manajemen pendidikan yang kurang tepat, penempatan tenaga tidak
sesuai dengan bidang keahliaannya ( termasuk didalamnya pengangkatan kepala
madrasah / sekolah yang kurang professional bahkan hanya mengutamakan nuansa
politis dari pada profesionalisme ), penanganan masalah bukan pada ahlinya,
pemerataan kesempatan, keterbatasan anggaran yang tersedia, sehingga tujuan
pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan
mutu pada setiap jenis dan jenjang pendidikan belum dapat diwujudkan secara
signifikan. Menurut Sidi ( 2001) telah diupayakan tidak kurang 12 strategi
pembangunan pendidikan nasional, antara lain 1). Menerapkan perencanaan
berbasis kompetensi lokal. 2).
meningkatkan pemerataan pendidikan. 3). menetapkan sistem manajemen mutu secara menyeluruh. 4). meriview kurikulum secara pereodik serta mengembangkan
implementasi kurikulum secara kontinyu. 5). merancang proses penerapan
pendekatan dan metode serta isi pendidikan yang memberi kesempatan luas kepada
peserta didik dan warga belajar untuk mengembangkan potensi kemampuannya secara
luas. 6). meningkatkan system manajemen sumber pendidikan yang lebih adil dan
memadai serta mendayagunakan dan memobilisasi sumber dana secara efisien. 7).
Menyusun rambu-rambu kebijakan pengembangan program pendidikan yang luwes. 8).
Membuat peraturan perundangan yang mengatur perimbangan peran pemerintah dan
non pemerintah dalam pendidikan secara komprehensif. 9). Mengurangi unit
birokrasi yang dipandang kurang bermanfaat. 10). Mengupayakan secara konsisten
dukungan dana yang memadai terutama untuk prioritas program pendidikan sebagai public
goods. 11). menjaga konsistensi dan berkelanjutan internalisasi nilai-nilai
pendidikan nasional diantara tiga pusat pendidikan ; yaitu keluarga, sekolah
dan masyarakat, dan 12). Mengkaji pendekatan pembelajaran yang berorientasi
pada life skill.
Untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang bermutu
sebagaimana yang diharapkan banyak orang atau masyarakat bukan hanya menjadi
tanggungjawab sekolah, tetapi merupakan tanggungjawab dari semua pihak termasuk
didalamnya orang tua dan dunia usaha sebagai customer internal dan eksternal
dari sebuah lembaga pendidikan. Arcaro S Jerome menyampaikan bahwa
terdapat lima karakteristik sekolah yang bermutu yaitu : 1) Fokus pada
pelanggan. 2) Keterlibatan total 3) Pengukuran 4) Komitmen 5) Perbaikan
berkelanjutan (2005:38).
Mutu produk pendidikan akan dipengaruhi oleh sejauh mana
lembaga mampu mengelola seluruh potensi secara optimal mulai dari tenaga kependidikan, peserta didik, proses
pembelajaran, sarana pendidikan, keuangan dan termasuk hubungannya dengan
masyarakat. Pada kesempatan ini, lembaga pendidikan Islam harus mampu merubah
paradigma baru pendidikan yang berorientasi pada mutu semua aktifitas yang
berinteraksi didalamnya, seluruhnya mengarah pencapaian pada mutu.
Suryadi Poerwanegara ( 2002 ; 12) menyampaikan ada enam
ungsur dasar yang mempengarui suatu produk : 1) Manusia 2) Metode 3) Mesin 4)
Bahan 5) Ukuran 6) Evaluasi Berkelanjutan.
Pemimpin lembaga pendidikan Islam, khususnya di
lingkungan pesantren dan madrasah merupakan motivator, event
Organizer, bahkan penentu arah kebijakan sekolah dan madrasah yang akan
menentukan bagaimana tujuan-tujuan pendidikan pada umumnya direalisasikan.
Untuk mewujutkan hal tersebut maka kepala sekolah yang efektif adalah kepala
sekolah yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Mampu memberdayakan
guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan pruduktif.
2. Dapat menyelesaikan
tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
3. Mampu menjalin hubungan
yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif
dalam rangka mewujutkan tujuan sekolah dan pendidikan.
4. Berhasil menerapkan
prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pengawai
lain di sekolah.
5. Bekerja dengan Tim
manajemen.
6. Berhasil mewujutkan
tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan.
( E.Mulyasa : 2004; 126 )
Pondok pesantren, bila dibandingkan dengan lembaga
pendidikan lain yang pernah muncul di Indonesia merupakan sistem pendidikan tertua saat ini dan dianggap sebagai poruduk budaya Indonesia yang indigenous. Ditegaskan
pula oleh Madjid (1997:8) bahwa pesantren adalah lembaga yang merupakan cikal
bakal sistem pendidikan di Nasional. Dari segi histories,
pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung
makna keaslian Indonesia. Pendidikan ini semula pendidikan agama Islam
yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di Indonesia, yaitu abad ke-13.
Pada saat itu, pendidikan pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan
yang terstruktur, sehingga pendidikan ini dianggap sekolah bergengsi( Masyhud,
2003) Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mengalami doktrin dasar Islam,
khususnya menyangkut praktek kehidupan dan keagamaan. Ciri umum yang diketahui
adalah pesantren memiliki kultur yang khas. Cara pengajarannya yang unik.
Kyai yang biasanya adalah pendiri pondok pesantren, memberikan layanan
pendidikan secara kolektif atau bandongan ( collective learning process)
dan layanan individual atau sorogan (individual learning process). Pola
seperti ini disebut pondok pesantren salafiyah.
Pada perkembangannya, pondok pesantren merespon
positif terhadap pengaruh pendidikan Barat, Asia, dan Afrika yang mengenalkan
sistim sekolah / klasikal, walaupun secara kultur, pembelajaran secara
salafiyah tidak sepenuhnya ditinggalkan. Muncul kemudian istilah pondok modern seperti
Pondok Modern Gontor Ponorogo. Modern biasa berarti renaissance, aufklarung atau enlighment.
Modern berarti pula keterbukaan, perbedaan pendapat, demokrasi, dan
sebagainya. Dalam konteks ini, modern bisa berarti “ melampui “. keadaan pesantren dan segala penggambarannya tentang
dunia pendidikan Islam tersebut, pada zamannya. Para pendiri pondok
modern jelas mencita-citakan sebuah modernisasi pemikiran dalam
masyarakat Islam. Dan pondok modern merupakan sebentuk harapan bagi pembaharuan
pendidikan yang merdeka ( Ushuluddin, 2002:5) Menurutnya, pondok
pesantren disebut modern karena memang tampil tidak sama dengan pondok-pondok
tradisional atau salafiyah, baik sistim pendidikan dan pengajarannya maupun
pola sikap dan pola pikir keagamaannya, meskipun sebenarnya pondok modern
tidak bisa menanggalkan kesan “ ortodok “ sebagaimana trademark pesantren
lain pada umumnya.
Data Departemen Agama menunjukkan perkembangan pondok
pesantren yang luar biasa. Secara kuantitatif, tercatat jumlah pesantren di
Indonesia mencapai diatas 11.312 buah dengan santri lebih dari 2.737.805
orang ( Masyhud, 2003) terdiri dari pesantren salafiyah dan modern. Selain
menunjukkan tingkat keragaman, orientasi pimpinan pesantren, dan independensi
kyai, jumlah ini memperkuat argumen bahwa pesantren merupakan lembaga
pendidikan swasta yang sangat mandiri dan sejati merupakan praktik pendidikan
berbasis masyarakat ( community based education) . Melihat keberadaan
dan keragaman pondok pesantren ini, sebaiknya menjadi catatan pemerintah
terutama dalam rangka realisasi gerakan peningkatan mutu pendidikan untuk
semua. Dan keberadaannya yang menyebar dan meluas bias dijadikan sebagai basis
gerakan pemberantasan buta huruf , akselerasi program wajib belajar, dan bisa meningkatkan HDI ( Human Development Index )
Indonesia dimata dunia yang saat ini sedang anjlok. Deangan demikian pesantren
sebagai institusi pendidikan juga ikut berperan dan bertanggungjawab atas
pelaksanaan program-program pemerintah.
Pondok pesantren adalah sebuah sistem sosial yang didalamnya terdapat interaksi sosial yang harus dikelola dengan baik agar dapat memenuhi
kebutuhan dan mencapai tujuan pendidikan. Keberhasilan mencapai tujuan tidak
hanya bergantung pada guru atau staf lainnya, akan tetapi peran pengasuh atau
kyai sebagai sentral figur
sangat menentukan dalam menciptakan iklim pesantren yang mendukung pelaksanaan
proses belajar mengajar.
Setiap lembaga pendidikan, termasuk didalamnya pondok
pesantren, dituntut untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada “
pelanggannya “ . Agar tugas ini terwujud, pesantren perlu didukung sistem manajemen yang baik. Beberapa ciri sistem manajemen yang baik adalah adanya pola pikir yang
teratur (administrative thinking) pelaksanaan kegiatan yang
teratur (administrative behaviour ), dan penyikapan terhadap tugas-tugas
kegiatan secara baik (administrative attitude ).
Menurut Mulyasa (2005:24) bahwa kepala sekolah
diasumsikan pimpinan pondok pesantren dikenal dengan direktur atau kyai,
merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam
melaksanakan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Sedangkan potensi kepala
sekolah / kyai jika ditinjau dari tugas dan tanggungjawabnya, lebih ditekankan
pada kompetensi manajerial dan kepemimpinan pendidikan. Sebagai manajer
sekaligus pemimpin pendidikan, kepala sekolah/ kyai harus: 1) Membina kerja
sama yang harmonis dengan stafnya, 2) Membantu para guru untuk memahami
kurikulum, 3)
Membina hubungan yang baik antara sekolah dengan masyarakat, dan 4) Menyelenggarakan
pendidikan dan membinanya.
Untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada di
lingkungan pendidikan tersebut terletak pada Manajemen mutu terpadu yang
akan memberi solusi para professional pendidikan untuk menjawab tantangan
masa kini dan masa depan . Karena Manajemen Mutu Terpadu dapat digunakan untuk
membangun aliansi antara pendidikan, bisnis dan pemerintah. Manajemen Mutu
terpadu dapat membentuk masyarakat responsive terhadap perubahan tuntutan
masyarakat di era globalisasi ini. Manajemen Mutu Terpadu juga dapat
membentuk sekolah yang tanggap dan mampu merespon perubahan yang terjadi dalam
bidang pendidikan demi memberikan kepuasan pada stakeholder.
Mengacu kepada latar belakang masalah diatas, dapat
ditegaskan bahwa mutu pendidikan nasional saat ini sedang menghadapi problem
yang pelik dan komplek, bukan saja problem-problem rutin-administrasi, namun
pula hadirnya kemampuan ketrampilan manajerial pimpinan lembaga pendidikan ,
perubahan prilaku dan pola hidup pimpinan lembaga pendidikan khususnya di
lembaga pendidikan Islam, rendahnya partisipasi dan tanggung jawab secara
komprehensip tenaga pendidik dan kependidikan, niat yang kurang tulus dalam
menjalankan tugas pokok dan fungsi ( TUPOKSI ) yang diemban olehnya atau
Tim Work Tenaga pendidik dan Kependidikan, para pelanggan pengguna
lulusan menuntut profesionalisme terhadap teori, skill, dan pengalaman
yang mereka miliki sesuai dengan tuntutan lapangan, masih carut marutnya
pemahaman dan aplikasi teori belajar dan pembelajaran yang dimiliki oleh para
guru maupun dosen , Dan Evaluasi kebijakan pendidikan dan evaluasi pembelajaran
yang masih labil dan berubah-ubah akan mempengaruhi kegoncangan pemahaman dan ketidaknyamanan pendidik dan
tenaga kependidikan.
PEMBAHASAN
A. Manajemen Mutu Terpadu.
Manajemen berasal dari kata “ to manage “ yang artinya
mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan
dari fungsi-fungsi manajemen itu, jadi manajemen itu merupakan suatu proses
untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.( Hasibuan, 2004: 1)
Manajemen Mutu Terpadu ( Total Quality Management)
dalam kontek pendidikan merupakan sebuah filosofi metodologi tentang perbaikan
secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada
setiap institutsi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan,, dan harapan
pelanggan, saat ini maupun masa yang akan datang. ( Edward Sallis, 2006:73). Sedangkan Santoso
menyampaikan bahwa TQM merupakan suatu sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi
usaha yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh
anggota organisasi ( 2003:4). Total Quality Management merupakan suatu
pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimalkan daya saing
organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, tenaga
kerja, proses, dan lingkungan ( Nasution M.N, 2004:18)
Pada hakekatnya tujuan institusi pendidikan adalah untuk
menciptakan dan mempertahankan kepuasan para pelanggan dan dalam TQM kepuasan
pelanggan ditentukan oleh stakeholder lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena
hanya dengan memahmi proses dan kepuasan pelanggan maka organisasi dapat
menyadari dan menghargai kualitas. Semua usaha / manajemen dalam TQM harus
diarahkan pada suatu tujuan utama, yaitu kepuasan pelanggan, apa yang dilakukan
manajemen tidak ada gunanya bila tidak melahirkan kepuasan pelanggan.
B.
Kerjasama Tim (Team Work)
Kerjasama tim merupakan unsur yang sangat penting dalam
Manajemen Mutu Terpadu. Tim adalah sekelompok orang bekerja secara bersama-sama
dan memiliki tujuan bersama yaitu untuk memberikan kepuasan kepada seluruh
satakeholders. Kerja tim dalam sebuah organisasi merupakan komponen penting
dalam TQM, mengingat kerja tim akan meningkatkan kepercayaan diri, komunikasi
dan mengembangkan kemandirian. Kerjasama tim dalam menangani proyek perbaikan
atau pengembangan mutu pendidikan merupakan salah satu bagian dari pemberdayaan
(empowerment) pegawai dan kelompok kerjanya dengan pemberian
tanggungjawab yang lebih besar. Eksistensi kerjasama dalam sebuah lembaga
pendidikan sebagai modal utama dalam meraih mutu dan kepuasan stakeholders
melalui proses perbaikan mutu secara ber-kesinambungan.
Fungsi kerjasama tim sebagai berikut:
1. Berrtanggungjawab pada
mutu pembelajaran.
2. Bertanggungjawab pada
pemanfaatan waktu para guru, material sertaruang yang dimanfaatkan.
3. Menjadi sarana untuk
mengawasi, mengevalusai dan meningkatkan mutu.
4. Bertindak sebagai
penyalur informasi kepada pihak manajemen tentang perubahan-perubahan yang
dalam proses peningkatan mutu tim.
Faktor-faktor Penghambat Kerja Tim :
1. Identitas pribadi
anggota tim.
2. Hubungan antara anggota
tim.
3. Identitas tim dalam
organisasi Kunci
keberhasilan tim
Ada tiga komponen saling berkaitan yang mempengaruhi kinerja dalam produktifitas suatu tim, yaitu sebagai
berikut:
1. Organisasi secara
keseluruhan
Budaya atau kultur suatu organisasi akan menentukan
sikap, perilaku dan cara berfikir seluruh anggota dalam mencapai misi dan
tujuuan yang dipengaruhi oleh filosofi organisasi, norma, kode etik, system
penghargaan dan harapan dari para anggota organisasi.
2. Tim Kerja
Tim kerja mampu mencapai kinerja atau produktivitas yang diharapkan apabila dilakukan dengan
adanya peranan dan tanggungjawab yang jelas, mampu melaksanakan manajemen
konflik, adanya prosedur operasi yang jelas dan simple, serta pencapaian misi
tim.
3. Para individu anggota
tim
Sifat individu anggota tim harus memiliki beberapa
persyaratan agar kinerja atau produktivitas meningkat, yaitu : memiliki kesadaran dini untuk
bekerjasama dalam mencapai tujuan tim, memiliki apresiasi terhadap perbedaan
individual, bersikap empati dan perhatian yang besar dalam penyampaian tugas
masing-masing individu anggota tim.
Strategi untuk meningkatkan kinerja tim dalam Pencapaian
Tujuan
1.
Saling ketergantungan ; Saling ketergantungan individu dalam sebuah tim sangat penting dalam hal
informasi, sumber daya, pelayanan tugas, karena hal ini dapat memperkuat
kekompakan tim dalam mencapai kepuasan seluruh stakeholders.
2.
Perluasan Tugas
; Tim harus diberi tantangan, karena reaksi atau tanggapan terhadap tantangan
tersebut membentuk semangat persatuan, kebanggan dan kesatuan tim.
3.
Penjajaran (alignment) ;Rasa individualistis harus dibuang dalam rangka mencapai
misi yang bersama.
4.
Bahasa yang umum
;Dalam pemakaian istilah harus memakai bahasa umum agar supaya meudah
dipahami oleh semua anggota tim.
5.
Kepercayaan/Respek
;Dalam tim harus berusaha membentuk kepercayaan dan respek demi tercapainya
kerjasama yang baik.
6.
Kepemimpinan ;Dalam tim setiap
individu memiliki bakat dan kemampuan anggota tim.
7.
Ketrampilan pemecahan masalah ; Kemampuan
memecahkan masalah dalam tim harus dibina. Karena masalah sering muncul dalam
organisasi.
8.
Ketrampilan menangani komprontasi/konflik. ;Dalam Manajemen
Mutu Terpadu dibutuhkan ketrampilan menghadapi perbedaan pendapat dan
menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pendapat orang lain tanpa merusak
keharmonisan dalam tim.
9.
Penilaian / tindakan
;Penilaian dilakukan dengan memantau dan membandingkan apa yang telah
dilakukan dengan pernyataan misi dan rencana tindakan yang ada.
10. Penghargaan
;Penghargaan atas
kesuksesan tim dalam menyelesaikan tugas merupakan motivasi tim untuk bekerja
lebih baik dalam mencapai tujuan selanjutnya.
Menurut Edward Sallis parameter efektifitas tim adalah,
sebagai berikut :
1.
Sebuah tim memerlukan peran anggota yang telah
didefinisikan secara jelas.Hal ini penting untuk mengetahui siapa pemimpin tim
dan siapa yang menfalisilitator tim.
1.
Tim membutuhkan tujuan yang jelas. Tim harus mempunyai
arah dan tujuan yang jelas untuk dicapai. Tujuan harus realistis, dapat dicapai
dan relevan bagi kepentingan seluruh anggota.
2.
Sebuah tim membutuhkan sumberdaya-sumberdaya dasar untuk
beroperasi.
3.
Kebutuhan sumber daya dasar adalah manusia, waktu, ruang
dan energi.
4.
Sebuah tim perlu mengetahui tanggungjawab dan otoritas.
5.
Kekecewaan akan lahir jika terdapat pertimbangan yang
diabaikan atau jika tim berlebihan dalam menggunakan otoritasnya.
6.
Sebelum tim membutuhkan rencana kerja.
7.
Rencana mencakup visi, misi tentang langkah-langkah yang
dibutuhkan dalam penyelesaian tugas dan sumber daya bagi tim.
8.
Sebuah tim membutuhkan seperangkat aturan untuk bekerja.
9.
Aturan-aturan harus sederhana dan disetujui oleh seluruh
anggota tim, mereka adalah tahap penting dalam penentuan norma.
10. 7.
Tim perlu menggunakan alat-alat yang tepat untuk mengatasi masalah dan
menemukan solusinya.
11. 8.
Tim perlu mengembangkan sikap tim yang baik dan bermanfaat.
Ada beberapa hal yang secara ideal harus dilakukan oleh
seluruh anggota dan mencakup kemampuan untuk:
a)
Menghinisiasikan diskusi
b)
Mencari informasi dan opini.
c)
Mengusulkan prosedur untuk mencapai tujuan.
d)
Menjelaskan atau mengurangi ide.
e)
Menyimpulkan
f)
Tes untuk mufakat.
Bertindak sebagai moderator lalu lintas percakapan
langsung, menghindari percakapan simultan, menghambat pembicaraan yang dominan,
memberi kesempatan pada pembicara uyang lain, menjaga percakapan dari hal-hal
yang menyimpang.
Kompromis dan kreatif dalam mengatasi perbedaan.
Mencoba untuk mengurangi ketegangan dalam kelompok dan
berusaha bekerja menembus masalah – masalah yang sulit.
Mengekpresikan perasaan kelompok dan meminta yang lain
untuk mengecek kesan tersebut.
a)
Membuat kelompok setuju terhadap standar.
b)
Merujuk pada dokumentasi dan data.
c)
Memuji dan mengoreksi anggota dengan cara yang fair dan
mampu menerima komplain sama baiknya dengan pujian.
C. Keterlibatan
Stakeholders
Misi utama dari Manajemen Mutu Terpadu adalah untuk
memenuhi kebutuhan dan tuntutan seluruh pelanggan. Sekolah yang baik adalah
sekolah yang mampu menjaga hubungan dengan pelanggannya dan memiliki obsesi
terhadap mutu. Pelanggan sekolah ada dua macam:
a)
Pelanggan Internal : guru, pustakawan, laborat, teknisi
dan administrasi.
b)
Pelanggan Eksternal terdiri dari:
c)
Pelanggan primer : siswa
d)
Pelanggan sekunder: orang tua, pemerintah dan masyarakat.
e)
Pelanggan tertier : pemakai/penerima lulusan (perguruan
tinggi dan dunia usaha).
Menurut Edward Sallis dalam institusi pendidikan
pelanggan utama adalah pelajar yang secara langsung menerima jasa, pelanggan
kedua yaitu orang tua atau sponsor pelajar yang memiliki kepentingan langsung
secara individu maupun institusi dan pelanggan ketiga yaitu pihak yang memiliki
peran penting, meskipun tak langsung seperti pemerintah dan masyarakat secara
keseluruhan.
Guru, staf dan setiap orang yang bekerja dalam
masing-masing institusi turut memberikan jasa kepada para kolega mereka adalah
pelanggan internal. Hubungan internal yang kurangbaik akan menghalangi
perkembangan sebuah institusi sekolah dan akhirnya membuat pelanggan eksternal
menderita. Salah satu tujuan TQM adalah untuk merubah sebuah institusi sekolah
manjadi sebuah tim yang ikhlas, tanpa konflik, dan kompetisi internal, untuk
meraih sebuah tujuan tunggal yaitu memuaskan seluruh pelanggan.
a. Keterlibatan Siswa
Upaya melibatkan siswa telah menjadi fenomena yang
berkembang pada sekolah akhir-akhir ini, tetapi belum maksimal siswa yang
terlibat dan mempengaruhi proses penyusunan kegiatan belajar mengajar disekolah. Perlu didesain agar supaya
dalam penyusunan kurikulum dan peraturan-peraturan disekolah disusun secara
fair dan efektif dengan melibatkan siswa.
Adalah penting melibatkan
siswa dalam proses pembuatan keputusan seperti dalam penyusunan kurikulum dan
hal – hal yang berkenaan dengan desain materi pembelajaran. Sebuah lingkungan
kelas yang memberi otonomi atau keleluasaan bagi siswa memiliki kaitan erat
dengan kemampuan siswa dalam berekspresi, kreatif menunjukkan kemampuan diri
belajar secara konseptual dan senang terhadap tantangan. Si siswa yang memiliki
andil dalam kegiatan-kegiatan instrusional atau pembuatan peraturan sekolah
memilik rasa cinta terhadap sekolah dan pada gilirannya secara signifikan
keterlibatan mereka terhadap kegiatan – kegiatan sekolah.
Selama ini siswa dijadikan obyek dikelas ketimbang
dijadikan sebagai subyek pendidikan. Siswa diharuskan tunduk kepada seluruh
aturan yang dibuat oleh sekolah siswa tidak diberi kesempatan untuk
mengungkapkan kemampuan yangdimilinya. Siswa dalam menerima pelajaran dari guru
dan menjalankan peraturan yang ada disekolah dalam keadaan terpaksa, karena
merasa tidak nyaman dan tidak dilibatkan dalam desain pembelajaran dan
pembuatan peraturan.
Bahwa orientasi negatif bisa muncul jika kebijakan, tujuan dan norma sekolah
atau implementasi semuanya dikembangkan tanpa melibatkan siswa atau siapa saja
yang akan melaksanakannya. Sebaliknya keterlibatan mereka yang maksimal,
terutama siswa akan memberikan respon positif terhadap program, peraturan,
tuntutan atau norma–norma sekolah, keterlibatan siswa dalam perencanaan aktifitas kelas
adalah merupakan bagian dari aspek otonomi dan kontrol dari siswa sendiri. Jika siswa merasa tidak
berseberangan dengan aturan kelas, kemungkinan besar mereka akan mengembangkan
prilaku positif terhadap sekolah secara umum dan terhadap prestasi akademis
secara khusus.
b. Keterlibatan Orang Tua
Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak
disekolah merupakan hal yang penting dilakukan oleh institusi pendidikan dan
inilah salah satu unsur penting dalam TQM.
Peran orang tua dalam pembentukan motivasi dan penguasaan
diri anak sejak dini merupakan modal besar bagi kesuksesan anak di sekolah.
Peran orang tua terdiri dari: orang tua dapat mendukung perkembangan
intelektual anak dan kesuksesan akademik anak dengan memberi mereka kesempatan
dan akses ke sumber-sumber pendidikan seperti jenis sekolah yang dimasuki
anak atau akses ke perpustakaan, multi media seperti internet dan televisi pendidikan. Orang tua dapat membentuk
perkembangan kognitif anak dan pencapaian akademik secara langsung dengan cara
terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan mereka. Orang tua juga mengajarkan
anak norma dalam berhubungan dengan orang dewasa dan teman sebaya yang relevan
dengan suasana kelas.
Lakukan komunikasi secara intensif, secara proaktif
sekolah menghubungi orang tua siswa. Ini dapat dilakukan :
1.
Kirimkan ucapan selamat bergabung dengan sekolah dan BP2,
bagi orang tua siswa baru, setelah perlu dilakukan perkenalan dan orientasi
singkat agar orang tua mengetahui sekolah dengan aktivitasnya.
2.
Rapat tertentu, sebaiknya dilakukan pada level kelas,
sehingga diantara rapat dapat efektif dan orang tua dapat saling kenal.
3.
Kirimkan berita sekolah secara periodik, sehingga orang
tua selalu mengetahui perkembangan terakhir.
4.
bagikan daftar personal sekolah secara lengkap, termasuk
alamat dan tugas-tugas pokok mereka, sehingga orang tua dapat menghubungi.
5.
Mengundang orang tua jika anaknya berprestasi, jangan
hanya mengundang kalau anaknya bermasalah.
6.
Melakukan kunjungan rumah bila diperlukan.
a)
Libatkan orang tua sebagai sponsor/panitia kegiatan di
sekolah.
b)
Memberi peran orang tua untuk mengambil keputusan,
sehingga merasa bertanggungjawab untuk melaksanakannya.
c)
Dorong guru untuk melibatkan orang tua dalam menunjang
keberhasilan belajar siswa.
d)
Usaha yang dapat dilakukan untuk mendorong orang tua
terlibat pada kegiatan di sekolah:
7.
Lakukan identifikasi kebutuhan sekolah dan bagaimana
orang tua dapat membantu pada kegiatan tersebut. Libatkan guru, staf dan wakil
BP3 dalam identifikasi tersebut.Susun uraian tugas untuk posisi-posisi yang
mungkin dapat dibantu oleh orang tua sebagai relewan. Upayakan tugas tersebut
tidak terikat oleh jadwal waktu yang ketat.
8.
Bantu guru untuk menyusun program relawan yang terkait dengan
tugasnya.
9.
Informasikan secara luas program relawan tersebut,
lengkap dengan diskripsi tugas untuk setiap tugas/posisi.
10. Undang
orang tua yang bersedia menjadi relawan.
11. Berikan
penghargaan bagi orang tua yang telah melaksanakan tugas sebagai relawan.
III.
PENUTUP
Mempertahankan kepuasan pelanggan membuat
organisasi dapat menyadari dan menghargai kualitas. Semua
usaha / manajemen dalam TQM harus diarahkan pada suatu tujuan utama, yaitu
kepuasan pelanggan, apa yang dilakukan manajemen tidak ada gunanya bila tidak
melahirkan kepuasan pelanggan.
Kerjasama tim dalam menangani proyek perbaikan atau
pengembangan mutu pendidikan dilakukan melalui pemberdayaan (empowerment) pegawai dan kelompok
kerjanya dengan pemberian tanggungjawab yang lebih besar. Eksistensi kerjasama
dalam sebuah lembaga pendidikan sebagai modal utama dalam meraih mutu dan
kepuasan stakeholders melalui proses perbaikan mutu secara berkesinambungan.
Guru, Staf dan setiap orang dalam institusi pendidikan
turut memberikan jasa kepada para kolega mereka sesama
pelanggan internal. Hubungan internal yang kurang baik
akan menghalangi perkembangan sebuah institusi. Salah satu tujuan TQM adalah
untuk merubah sebuah institusi sekolah menjadi sebuah tim untuk meraih sebuah
tujuan tunggal yaitu memuaskan seluruh pelanggan. Peran orang tua dalam motivasi diri anak sejak dini
merupakan modal besar bagi kesuksesan anak di sekolah. Orang tua dapat mendukung perkembangan intelektual anak
dan kesuksesan akademik anak dengan memberi mereka kesempatan dan akses
ke sumber-sumber pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, 2004, Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills
Education), Bandung: Penerbit Alfabeta
AryBogdan, RC and Bihlen,SK,1982,Qualitative Reseach
For Education An Introduction to Theory and Methods, London,Allyn and
Bacon,Inc.
BSNP, 2006, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
Depdiknas,2001, Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup
(Life Skills Education)
Depdiknas,2001, Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup
(Life Skills Education) Buku I, Jakarta
_______, 2004 Pedoman Pelaksanaan Penyetaraan KMI/TMI
dengan SMA, Jakarta
Dirjen Kelembagaan Agama Islam Depatremen Agama,2005,Pedoman
Integrasi Life Skills Dalam Pembelajaran, Jakarta
Edward Sallis, ( 2006 ) Total Quality Management,
Alih Bahasa, Ahmad Ali Riyadi. Ircisod, Yogyakarta.
Handoyo, T. Hani, 2003, Manajemen Edisi 2,, Yogyakarta:
BPFE-Yogyakarta
Hidayati, Titiek Rohana, 2005,Hubungan antara
Ketrampuilan Manajerial Kepala Sekolah, pelatihan Guru, Motivasi Kerja dan
Iklim Organisasi dengan Kinerja Guru Madrasah Aliyah Swasta se kabupaten
jember, Unpublished Dissertation, malang:UM Malang.
Irfan, Mohamad, 1997, Pengelolaan Ketrampilan di
Pondok Pesantren Nurul Jadid paiton Probolinggo, Unpublished Thesis,
Malang, PPS IKIP Malang
Kaluge, Laurens, 2003, Sendi – sendi manajemen
Pendidikan, Surabaya;UNESA University Press
Mulyasa, E, 2002 Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Nazir,Moh,2005, Metode Penelitian., Bogor:
Penerbit Ghalia Indonesia
Nasution.M.N. ( 2004 ) Manajemen Mutu Terpadu,
Ghalia Indonesia.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006
Tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah, Jakarta
Pidarta, made,2004, Manajemen Pendidikan Indonesia,
Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Suryadi Prawirosentono, 2002, Filosofi Baru Tentang
Manajemen Mutu Terpadu, Jakarta, PT.Bumi Aksara.
Sidi, 1, 2001, Strategi Pendidikan Nasional, Makalah,
disampaikan pada simposium dan musyawarah Nasional 1 Alumni Program
Pascasarjana Universitas Negeri Malang tanggal 13-14 oktober 2001 di Malang.
Syafrudin, 2002, Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan
Konsep, Strategi dan Aplikasi, Jakarta, PT.Grasindo .
Stephen M. and Colin Morgan, 1993, Total Quality
Mangement and The School, Open University Press, Buckingham-Philadelphia.
Surya Subrata ( 2004 ) Manajemen Pendidikan di Sekolah,
Jakarta. PT.Rineka Cipta.
Sumahamijaya, Suparman dkk,2003, Pendidikan Karakter
Mandiri dan Kewiraswastaan, Suatu upaya bagi keberhasilan Program Pendidikan
Berbasis Luas/BBE dan Life Skills, Bandung : PT Angkasa
Ushuluddin, Win, 2002, Sintesis Pendidikan Islam Asia
– Afrika,Yogyakarta: Paradigma
Wahjosumidjo, 2001, Kepemimpinan dan Motivasi,
Jakarta: Ghalia Indonesia
_______, 2003, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan
Teoritik dan Permasalahannya, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Zarkasyi, Abdullah Syukri, 2003, Manajemen Pesantren,
Pengalaman Pondok Modern Gontor, Ponorogo:Trimurti Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar